Rabu, 05 Januari 2011

Otak Tengah (Manfaatnya)

Dahsyatnya otak tengah, sebuah judul buku yang kemudian menjadi bahan pembicaraan hangat dimana-mana. Banyak orang yang dibuat penasaran terutama dengan manfaat yang dihasilkan dari proses aktivasi otak tengah yang berlangsung singkat. Melihat isi bukunya, mungkin kita akan merasa terperanjat heran, takjub dan berfikir “masa sich” atau “apa iya” dan kemudian berhasrat ingin mencobanya.
Ilustrasi berikut ini cukup jelas menggambarkan cerita-cerita kesuksesan hasil aktivasi otak tengah. Seorang ibu rumah tangga bernama Eka Oktanla (31), sangat menginginkan anaknya agar lebih berkonsentrasi lagi terhadap pelajarannya. Maka ia menyertakan anaknya pada program aktivasi otak tengah dimana ketika proses pengaktifan berlangsung, anak tersebut merasakan otak tengahnya mengeluarkan sinar dan terlihat terang. Maka ketika matanya tertutup, anak tersebut bisa membaca Koran dan menebak kartu remi. Ilustrasi tadi bisa jadi sangat merangsang kaum ibu demi kesuksesan sang anak.
Program aktivasi otak tengah memang akhir-akhir ini semakin marak di Indonesia, seiring publikasi yang semakin gencar dan mudahnya informasi yang didapatkan. Menurut pakar aktivasi otak tengah, Lenny Putri, metode yang digunakan adalah teknologi komputer yang modern, pengaktifan otak kanan dilakukan pada midbraln melalui kolaborasi dan kemanjuran music, audio dengan tujuan untuk merangsang otak tengah agar berfungsi untuk menyeimbangkan otak kiri dan otak tengah. Ia juga menambahkan, melalui musik atau biasa disebut dengan mozart, maka tingkat kecerdasan seorang anak akan berbeda Jika dibandingkan dengan anak lainnya, menurutnya otak tengah merupakan jembatan yang menghubungkan dan menyeimbangkan fungsi otak kiri dan otak kanan. Sehingga apabila otak tengah telah diaktifkan, kemungkinan besarnya fungsi otak kiri dan otak kanan akan bekerja secara maksimal. Itu dikarenakan pengaktifan otak tengah bisa mengembalikan kekuatan otak pada keadaan semula.
Masih menurutnya, ketika otak tengah diaktifkan maka anak-anak akan memiliki akses yang mudah baik otak kiri, maupun otak kanan untuk lebih konsentrasi terhadap pelajaran. Daya kecepatan meghafalnya pun akan lebih sempurna Selain itu juga. Kelebihan dari pengaktifan otak tengah yaitu anak akan bisa membaca atau melakukan aktivitas lainnya dengan mala tertutup. Hal seperti itulah yang membuat para orang tua tertarik untuk mengikuti anaknya pada pelathan dan aktivasi otak tengah yang diselenggarakannya.
Selama ini kita lebih sering mendengar atau familiar dengan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri dimana berperan pada logika, pembelajaran bahasa, angka, tulisan, dan hitungan. Sedangkan otak kanan berperan pada daya kreatifitas, imajinasi dan lainnya. Otak tengah (Mesencephalon), berfungsi sebagai jembatan penghubung antara otak kanan dan otak kiri, dan selain itu juga berfungsi sebagai keseimbangan. Otak tengah juga yang mendominasi perkembangan otak secara keseluruhan. Fungsi dari otak tengah dimana dalam keadaan tertidur dapat berkembang secara maksimal. Pada penelitian kedokteran, otak tengah berhubungan dengan frekuensi gelombang otak (alpha hingga tetha) yang dikenal bisa mengondisi tubuh manusia menjadi rileks dan nyaman. Otak tengah juga diyakini sebagai perkembangan pertama dalam petumbuhan janin, yang merupakan bagian terkecil dari otak yang berfungsi seperti ”Stasiun Relai” untuk informasi pendengaran dan penglihatan. Otak tengah juga berperan untuk meningkatkan kemampuan mengasihi orang lain.
Cuplikan berikut ini berisi manfaat yang diperoleh setelah kita mengaktifkan otak tengah, dengan mengambil referensi buku dahsyatnya otak tengah. Otak tengah yang telah teraktivasi dapat membuat keseimbangan hormon dalam tubuh seseorang menjadi lebih baik. Salah satu fungsi otak tengah adalah mengatur hormon, di mana area yang mendapat pengaruh cukup besar adalah emosi. Seseorang yang otak tengahnya telah diaktifkan mempunyai keseimbangan emosi yang sangat baik dan mampu mengontrol emosinya dengan lebih baik. Adapun manfaat lain yang dirasakan adalah Meningkatkan Daya Ingat, Meningkatkan Kemampuan Inovasi dan Kreativitas, Meningkatkan Konsentrasi, Meningkatkan Kemampuan Fisik dalam Berolahraga, Meningkatkan Keseimbangan Otak Kanan dan Otak Kiri, Meningkatkan Keseimbangan Hormon, dan Meningakatkan Daya Intuisi atau kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan tanpa masukan atau tanpa menggunakan alasan apapun.

Sumber : Buku Dahsyatnya Otak Tengah – Hartono Sangkanparan
http://dahsyatnyaotaktengah.com/category/bab-11

http://tiqahminds.wordpress.com/keunggulan-otak-tengah/

http://bataviase.co.id/node/85928


Selasa, 04 Januari 2011

Telaah Tahapan Perkembangan BJ Habibie berdasarkan Teori Sullivan

Penulis : Adi Sulaiman

Sullivan memang tidak banyak berpendapat mengenai tahap dewasa matang di luar lingkup psikiatri interpersonal; namun ia meyakini bahwa walaupun gambaran akan orang dewasa tidak ditemukan dalam pengalaman klinis, tapi merupakan hasil perkiraan dari tahapan-tahapan sebelumnya. Melihat berbagai keberhasilan dan kegemilangan Bapak Habibie yang begitu runtut dan jelas alurnya, tentu saja hal ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba sebagai keajaiban. Beliau pada hakikatnya manusia biasa juga yang sama dengan manusia Indonesia lainnya. Beliau dilahirkan bukan di kota besar yang lengkap dengan berbagai fasilitas, beliau lahir di daerah Pare-Pare dari keluarga yang pure Indonesia. Prestasi demi prestasi yang beliau miliki dan torehkan menjadi kebanggaan bukan hanya pribadi tapi juga kebanggaan Indonesia bahkan kebanggaan dunia. Keberhasilan dan prestasi ini merupakan hasil tempaan dan pengalaman-pengalaman yang diperoleh pada masa tahapan-tahapan sebelum berkembang menjadi dewasa. Profil singkat diatas juga menunjukkan betapa seorang habibie mengembangkan needs dalam arti beliau sangat memfasilitasi perkembangan interpersonal, dimana Transformasi Energi yang beliau lakukan secara teratur menjadi dynamism dengan tipikal intimacy yaitu hubungan interpersonal erat dengan kelompok teman atau orang lain dengan status setara.
Pada masa kanak-kanaknya, Habibie sebagai anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo, sejatinya mendapatkan periode akulturasi sebagaimana diungkapkan Sullivan (1953b) bahwa pada masa kanak-kanak sebagai periode akulturasi yang pesat yaitu periode memperoleh bahasa, anak-anak belajar pola budaya kebersihan, kebiasaan dan harapan peran gender. Hidup sebagai anak laki-laki yang memiliki urutan menengah yaitu memiliki tiga orang kakak dan empat orang adik, Habibie mendapatkan banyak pelajaran kehidupan dari orangtua dan kakak-kakaknya, terlebih lagi ia harus memberi bimbingan dan menjadi contoh bagi adik-adiknya. Apalagi dalam usia 14 tahun, beliau harus kehilangan ayah karena terkena serangan jantung.
Begitu pula pada masa Juvenil, dimana pada masa tersebut mulai timbul kebutuhan akan kelompok teman atau teman bermain dengan status setara, dan diakhiri saat seseorang menemukan satu teman untuk memuaskan kebutuhan akan keintiman. Selama tahapan ini, Sullivan percaya bahwa anak seharusnya belajar untuk bersaing, berkompromi dan bekerja sama. Habibie kecil melalui masa ini bersama saudara-saudaranya secara harmonis dan rukun di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak.
Tak lama setelah ayahnya meninggal, Habibie pindah ke Bandung untuk menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya. Masa ini memang dikenal sebagai masa remaja akhir dimana pada masa ini, bagi remaja akhir yang sukses mencakup tumbuhnya gaya sintaksis. Remaja akhir mulai senang bertukar pikiran dengan orang lain dan mendapatkan gagasan atau keyakinan mereka divalidasi atau disangkal. Mereka belajar dari orang lain bagaimana hidup dalam dewasa, namun perjalanan yang sukses di tahapan-tahapan sebelumnya memfasilitasi penyesuaian ini. Sosok Habibie pun dikenal sebagai pribadi yang sangat menikmati diskusi panjang dengan orang lain hingga berjam-jam lamanya. Seluruh kemampuan yang dimilikinya seakan didedikasikan untuk menghasilkan dan mempertahankan gagasan atau ide yang dimilikinya.
Disamping sisi pribadinya, perjalanan cinta seorang Habibie juga patut diteladani dan member kesan tersendiri di hati masyarakat Indonesia. Apa yang diungkapkan Sullivan (1953b) mengenai hubungan cinta bahwa “keintiman yang berkembang pesat dengan orang lain ini bukan urusan utama dalam hidup, namun mungkin merupakan sumber pemuasan utama dalam hidup”(hal. 34), nampaknya memang dapat menjadi gambaran atau ungkapan kata yang bisa mewakili begitu besarnya cinta seorang Habibie kepada istrinya. Bagi beliau, sang istri merupakan satu-satunya pendamping setia dalam keadaan suka maupun duka sekaligus tempat diletakkannya cinta yang kokoh seorang Habibie. Sampai saat ini beliau tetap mencintai istrinya dan menganggap istrinya masih terus berada di dalam hatinya kendati sang istri telah berpulang ke haribaan sang pencipta.



Kesimpulan
Harry Stack Sullivan berpendapat bahwa kepribadian adalah pola yang relatif menetap dari situasi-situasi antar pribadi yang berulang, yang menjadi ciri kehidupan manusia. Sullivan tidak menyangkal pentingnya hereditas dan pematangan dalam membentuk dan membangun kepribadian, namun ia berpendapat bahwa apa yang khas manusiawi adalah hubungan interpersonal. Pengalaman hubungan antar pribadi telah mengubah fungsi fisiologis organisme menjadi organisme sosial.
Sullivan sangat yakin bahwa kepribadian dibangun semata-mata pada hubungan interpersonal, sehingga dapat dikatakan teorinya sangat tinggi pada pengaruh sosial. Hubungan interpersonal bertanggung jawab atas karakteristik positif maupun negatif pada manusia. Satu pengaruh yang memisahkan manusia dengan semua makhluk lain adalah hubungan interpersonal. Manusia terlahir sebagai organism biologis-hewan tanpa kualitas manusia kecuali potensinya untuk ambil bagian dalam hubungan interpersonal. Segera setelah kelahirannya, manusia mulai menyadari potensi mereka ketika pengalaman interpersonal menjadikan mereka manusia. Sullivan percaya bahwa pikiran tidak memiliki isi apapun kecuali apa yang diberikan melalui pengalaman interpersonal. Manusia tidak tergerak oleh insting, namun oleh pengaruh lingkungan yang datang melalui hubungan interpersonal.
Dalam case study, terungkap bahwa keberhasilan seorang Habibie bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Masa demi masa dalam tahapan perkembangannya dilalui dengan hubungan interpersonal yang baik dan bahkan beliau mendapatkan istri sebagai pasangan yang memenuhi kepuasan keintimannya dan mendampinginya selama puluhan tahun sampai akhirnya meninggal dunia. Istrinya meninggalkan beliau dengan membawa cinta sejatinya.

motivasi...apa ya?

Motivasi merupakan istilah yang kerap digunakan untuk membangkitkan semangat dan harapan seseorang agar berada dalam kondisi siap lahir dan batin pada saat menghadapi tantangan. Contoh teranyar adalah motivasi yang digelorakan jutaan rakyat Indonesia terhadap pemain Tim Nasional Sepakbola Indonesia. Perjuangan dalam menghadapi laga demi laga selalu didukung pemberian motivasi dalam berbagai cara oleh semua pihak. Walaupun ada yang juga yang selalu mengkritik dan mencibir penampilan Timnas Indonesia, tapi yang memberikan motivasi tetaplah lebih banyak dan lebih bersemangat. Namun sebelum bercerita lebih jauh, apa sebenarnya motivasi itu sendiri.
Secara etimologis, Winardi menjelaskan istilah motivasi (motivation) berasal dari perkataan bahasa Latin, yakni movere yang berarti menggerakkan (to move). Diserap dalam bahasa Inggris menjadi motivation berarti pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau keadaan yang menimbulkan dorongan. Selanjutnya Winardi (2002:33) mengemukakan, motivasi seseorang tergantung kepada kekuatan motifnya. Berdasarkan hal tersebut diskusi mengenai motivasi tidak bisa lepas dari konsep motif. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif merupakan penyebab terjadinya tindakan. Steiner sebagaimana dikutip Hasibuan (2003:95) mengemukakan motif adalah “suatu pendorong dari dalam untuk beraktivitas atau bergerak dan secara langsung atau mengarah kepada sasaran akhir”. Ali sebagaimana dikutip Arep dan Tanjung (2004:12) mendefinisikan motif sebagai “sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang”.
Seseorang melakukan suatu tindakan memang pasti ada sebab yang melatar-belakanginya. Sebab inilah yang menjadi acuan dalam bertindak. Sejumlah faktor seperti kejadian atau peristiwa, perasaan, hubungan interpersonal, kondisi diri dan kemauan menjadi satu dalam lingkup sebab tadi. Motivasi dalam posisi ini menjadi pemicu tindakan yang dilahirkan oleh sebab terjadinya tindakan. Winardi (2002:33) menjelaskan, motif kadang-kadang dinyatakan orang sebagai kebutuhan, keinginan, dorongan yang muncul dalam diri seseorang. Motif diarahkan ke arah tujuan-tujuan yang dapat muncul dalam kondisi sadar atau dalam kondisi di bawah sadar. Motif-motif merupakan “mengapa” dari perilaku. Mereka muncul dan mempertahankan aktivitas, dan mendeterminasi arah umum perilaku seorang individu.
Berdasarkan uraian di atas, dalam konsep motif terkandung makna (1) motif merupakan daya pendorong dari dalam diri individu, (2) motif merupakan penyebab terjadinya aktivitas, dan (3) motif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian motif dapat didefinisikan sebagai daya pendorong dari dalam diri individu sebagai penyebab terjadinya aktivitas, yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Motivasi telah dirumuskan dalam sejumlah definisi yang berlainan. Walaupun begitu, tentang substansinya tidak banyak berbeda. Istilah motivasi, menurut Sumantri (2001:53), biasanya digunakan untuk menunjukkan suatu pengertian yang melibatkan tiga komponen utama, yaitu (1) pemberi daya pada perilaku manusia (energizing); (2) pemberi arah pada perilaku manusia (directing); (3) bagaimana perilaku itu dipertahankan (sustaining). Campbell dalam Winardi (2002:4) menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan (1) pengarahan perilaku, (2) kekuatan reaksi setelah seseorang karyawan telah memutuskan arah tindakan-tindakan tertentu, dan (3) persistensi perilaku, atau berapa lama orang yang bersangkutan melanjutkan pelaksanaan perilaku dengan cara tertentu.
Mitchell (1982) dalam Winardi (2002:28-29) menjelaskan, motivasi memiliki sejumlah sifat yang mendasarinya, yaitu: (1) ia merupakan fenomena individual, artinya masing-masing individu bersifat unik, dan fakta tersebut harus diingat pada riset motivasi, (2) motivasi bersifat intensional, maksudnya apabila seseorang karyawan melaksankan suatu tindakan, maka hal tersebut disebabkan karena orang tersebut secara sadar, telah memilih tindakan tersebut, (3) motivasi memiliki macam-macam fase. Para ahli telah menganalisis berbagai macam aspek motivasi, dan termasuk di dalamnya bagaimana motivasi tersebut ditimbulkan, bagaimana ia diarahkan, dan pengaruh apa menyebabkan timbulnya persistensinya, dan bagaimana motivasi dapat dihentikan.
Berendoom dan Stainer dalam Sedarmayanti (2000:45), mendefinisikan motivasi sebagai kondisi mental yang mendorong aktivitas dan memberi energi yang mengarah kepada pencapaian kebutuhan memberi kepuasan atau mengurangi ketidakseimbangan. Hasibuan (2003:95) mendefinisikan motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, efektif dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Vroom dalam Gibson (1991:185) mendefinisikan motivasi sebagai suatu proses yang menentukan pilihan antara beberapa alternatif dari kegiatan sukarela. Sebagian perilaku dipandang sebagai kegiatan yang dapat dikendalikan orang secara sukarela, dan karena itu dimotivasi. Mathis and Jackson (2000:89) mengemukakan motivasi merupakan hasrat di dalam seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan. Wahjosumidjo (1984:50) mengemukakan motivasi dapat diartikan sebagai suatu proses psikologi yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Proses psikologi timbul diakibatkan oleh faktor di dalam diri seseorang itu sendiri yang disebut intrinsicdan extrinsic. Faktor di dalam diri seseorang bisa berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan sedang faktor dari luar diri dapat ditimbulkan oleh berbagi faktor-faktor lain yang sangat kompleks. Tetapi baik faktor ekstrinsik maupun faktor intrinsik motivasi timbul karena adanya rangsangan.
Chung & Megginson dalam Gomes (2001:177) menjelaskan motivation is defined as goal-directed behavior. It concerns the level of effort one exerts in pursuing a goal… it is closely related to employee satisfaction and job performance (motivasi dirumuskan sebagai perilaku yang ditujukan pada sasaran motivasi berkaitan dengan tingkat usaha yang dilakukan oleh seseorang dalam mengejar suatu tujuan… motivasi berkaitan erat dengan kepuasan pekerjaan dan performansi pekerjaan). Jones sebagaimana dikutip Indrawijaya (1989:68) merumuskan “motivation is concerned with how behavior is activated, maintained, directed, and stopped”. Duncan (dalam Indrawijaya, 1989:68) mengatakan bahwa “from a managerial perspektif, motivation refers to any conscious attempt to influence behavior toward the accomplishment of organization goals”.
Memperhatikan uraian di atas, Gibson dalam Winardi (2002:4) menjelaskan bahwa apabila kita mempelajari berbagai macam pandangan dan pendapat mengenai motivasi, dapat ditarik sejumlah kesimpulan (1) para teoritisi menyajikan penafsiran-penafsiran yang sedikit berbeda tentang motivasi dan mereka menitikberatkan faktor-faktor yang berbeda-beda, (2) motivasi berkaitan dengan perilaku dan kinerja, (3) motivasi mencakup pengarahan ke arah tujuan, dan (4) dalam hal mempertimbangkan motivasi, perlu memperhatikan faktor-faktor fsiologikal, psikologikal, dan lingkungan sebagai faktor-faktor penting.
Dalam pengertian ini, maka dapat dikatakan bahwa motivasi berada sebelum aktivitas atau tindakan itu dilakukan, dan akan terus menemani aktivitas tersebut selama berjalan. Seperti ilustrasi diatas, bahwa pemain sepakbola Timnas memiliki motivasi yang sangat besar untuk bermain baik dan menjadi pemenang setiap laga pertandingan. Motivasi itu tidak berhenti ketika menjelang pertangan saja tetapi terus berkecamuk dalam pribadi tiap pemain selama pertandingan berlangsung. Motivasi pun kadarnya naik turun, dimana hal ini bergantung juga terhadap suasana hati yang turut dipengaruhi oleh peristiwa dan kondisi yang dialami.
Daftar Rujukan
Gibson, James L., John M. Ivancevich dan James H. Donnelly, Jr. (1996). Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses,(Alih Bahasa Nunuk Adiarni), Penerbit Binarupa Aksara, Jakarta.
Hasibuan, Malayu SP. (2003). Organisasi dan Motivasi Dasar Peningkatan Produktivitas. Bumi Aksara, Jakarta
Winardi. (2002). Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Suryana Sumantri. (2001). Perilaku Organisasi. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Sedarmayanti. (2001). Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja.Bandung: Mandar Maju
Gomes, Faustino Cardoso. (2001). Manajemen Sumber Daya Manusia.Yogyakarta: Andi Offset
Robert L. Mathis and John H. Jackson. (2000). Human Resource Management. New York: South-Western College Publishing.
Wahjosumidjo. (1994). Kepemimpinan dan Motivasi. Jakarta: Ghalia Indonesia
Indrawijaya, Adam I. (1989). Perilaku Organisasi. Bandung: Sinar Baru
http://rastodio.com/pendidikan/pengertian-motivasi.html

Pompa Hidran nan cantiq

Sekali lagi warga duren tiga membuktikan "kesaktiannya", menyulap pompa hidran yang disediakan untuk keperluan petugas pemadam, menjadi tampilan unik nan menghibur tanpa harus kehilangan fungsinya. Ngomong-ngomong dijual berapa ya "boneka" ini hehehehe......

Halte Indah 2


Halte lainnya yang terletak tidak jauh dari halte sebelumnya juga menjadi sasaran kreativitas warga Duren Tuga Jakarta Selatan. Apik dan bernuansa budaya betawi dengan penghijauan secukupnya. Ini patut menjadi contoh bagi pemerintah daerah dalam mengelola halte yang ada di DKI Jakarta.

Halte Indah 1


Kreasi warga yang tinggal di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan dalam menghias lingkungannya. Halte yang biasanya terlihat kumuh dan tidak terawat disulap menjadi halte indah nan menyenangkan. Kreasi ini patut diapresiasi kita semua.

Hubungan Psikologi dan Internet (bagian keempat)

Penulis : Adi Sulaiman

Pengguna internet di Indonesia sangat banyak dan menjadi potensi sebagai obyek pengembangan psikologi itu sendiri. Psikologi dengan berbagai subarea keilmuannya dapat dimanfaatkan untuk meneliti perilaku dan dampak para pengguna internet serta permasalahan yang muncul pada perilaku orang yang kecanduan internet. Berapa banyak orang yang kecanduan internet sampai-sampai melupakan kebutuhan dirinya sendiri seperti makan, bersosialisasi, ibadah dan sebagainya. orang yang kecanduan internet seperti halnya orang yang kecanduan terhadap obat-obatan, akan merasakan kurang nyaman dan sesuatu yang hilang dari dirinya apabila sehari saja tidak menggunakan internet. Perilaku kecanduan ini yang dapat dikaji lebih mendalam oleh psikologi.
Disamping itu, perilaku mencari jalan pintas bagi sebagian mahasiswa dan pekerja dalam menyelesaikan tugasnya, dapat menjadi penelitian bagi psikolog, dikaitkan dengan kreativitas dan kemampuan individu. Apakah adanya internet dapat membantu para mahasiswa dan pekerja menyelesaikan tugasnya secara kreatif atau malah sebaliknya. Fenomena ini memang layak menjadi kajian karena menyangkut kelangsungan kreativitas di masa mendatang. Kalau kemungkinan terburuk yang kita ambil sebagai asumsi bahwa kreativitas akan lemah karena terlalu banyaknya jalan pintas yang diambil ketika mengerjakan tugas, maka hal ini akan menjadi sangat buruk dan menjadi bom waktu bagi generasi mendatang.
Ilmu psikologi pun dapat digunakan sebagai salah satu instrumen pembuatan kebijakan berinternet secara sehat. Internet yang sejatinya dapat digunakan untuk memudahkan, bisa jadi malah membuat penggunanya bermasalah baik secara kesehatan maupun perilaku di waktu kemudian. Pemerintah sebagai pembuat peraturan, bersama pihak penyedia layanan internet dan pihak swasta diharapkan dapat bersinergi dan saling bekerja sama membuat suatu sistem yang melahirkan internet sehat bagi penggunanya. Internet sehat yang dimaksud disini adalah keberadaan internet yang memuat isi atau content yang baik, informatif dan jauh dari unsur SARA. Selain itu bagaimana supaya penyedia internet dan pihak swasta seperti warnet dapat menyediakan sarana prasarana yang menyehatkan bagi pengguna internet.
Internet kalau diibaratkan seperti pisau tajam, dimana pisau itu bergantung kepada pemegangnya. Bila pemegangnya memiliki perilaku dan proses mental yang baik, maka pisau tersebut akan menghasilkan manfaat bagi semua orang. Begitu pula sebaliknya, bila pisau tersebut dipegang oleh orang yang tidak baik maka akan menjadi bencana atau malapetaka bagi orang lain dan orang yang memegang pisau itu sendiri. Ibarat ini memberikan pelajaran bagaimana agar internet dapat menjadi manfaat bagi semua orang, maka harus dipergunakan atau dikelola oleh orang yang memiliki perilaku dan proses mental yang baik, dan ini adalah tugas orang-orang yang berkecimpung dalam psikologi untuk menjawab tantangan ini. terima kasih.